Fungsi dan Aplikasi Adjuvant dalam Pertanian Part.1


Widodo Dripp

Rabu,12 Desember 2018

Fungsi dan Aplikasi Adjuvant dalam Pertanian Part.1

Penggunaan adjuvan / surfaktan sebagai pendukung aplikasi pestisida saat ini cukup populer di kalangan petani. Di pasaran dikenal sebagai bahan perekat, perata pembasah atau penembus. Upaya pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan aplikasi pestisida hingga saat ini masih banyak menemui hambatan. Tak jarang ditemui petani yang mengeluhkan seolah-olah pestisida kurang efektif dalam membasmi hama dan mengendalikan penyakit, sehingga berbagai cara ditempuh misalnya dengan meningkatkan dosis pemakaian, atau mencampurnya dengan bahan aktif lain.

Efikasi pestisida terhadap organisme pengganggu tanaman (hama dan organisme penyebab penyakit tanaman) tidak hanya ditentukan oleh ketepatan jenis bahan aktif, dosis, kompatibilitas pencampuran lebih dari satu bahan aktif, kalibrasi alat semprot dan kualitas pestisida saja, tetapi juga yang tak kalah penting adalah faktor cuaca, tingkat resistensi OPT sasaran, karakteristik tanaman sasaran, dan sifat alami air sebagai pengencer dan pembawa pestisida.

  1. Faktor cuaca
    • Munculnya panas matahari dan hembusan angin beberapa saat setelah aplikasi pestisida di pagi hari akan mempercepat penguapan air sebelum bahan aktif bekerja secara maksimal.
    • Turunnya hujan beberapa saat setelah penyemprotan pestisida mengakibatkan bahan aktif tercuci dan hilang dari permukaan sasaran.
    • Aplikasi pestisida pada musim kemarau dengan intensitas paparan sinar matahari lebih tinggi juga berbeda dengan saat musim hujan.
  2. Tingkat resistensi OPT sasaran

Beberapa golongan hama serangga terutama ulat mempunyai lapisan chitin yang bersifat Hydrophobic (Hydro = air, phobic / phobia = takut) atau sulit basah oleh air, seperti zat lilin pada kulitnya sebagai perisai pertahanan terhadap tekanan dari luar termasuk pestisida. Karena sulit basah oleh air sehingga mengurangi kontak antara bahan aktif pestisida dengan serangga sasaran.

  1. Sifat alami air pengencer

Sifat alami air diantaranya mempunyai tegangan permukaan yang besar akibat gaya tarik menarik yang kuat antar molekulnya. Besarnya tegangan permukaan ini membuat permukaan air selalu berbentuk cembung. Sifat ini membuat penyemprotan pestisida pada permukaan tanaman tidak bisa merata, hanya terkonsentrasi pada blok-blok di beberapa tempat sehingga memungkinkan sebagian OPT lolos dari pestisida.

  1. Karakteristik tanaman sasaran

Pada permukaan daun juga terdapat lapisan lilin yang secara alamiah berfungsi sebagai penyaring sinar ultraviolet dan perisai alamiah. Lapisan lilin tersebut bersifat menolak air (hidrofobik). Contohnya pada tanaman bawang merah dan kubis. Karena adanya lapisan ini butiran-butiran semprotan tidak mudah menempel pada tanaman dan jatuh ke tanah. Agar air bisa membasahi lapisan tersebut maka sifat air semprotan harus diubah menjadi Lipophilic (lipo = lemak / minyak, philic = suka) karena lapisan lilin tersebut mempunyai karakter seperti minyak yang tidak bisa menyatu dengan air. Sifat ini mengganggu efikasi pestisida maupun efektivitas pupuk yang diaplikasikan melalui daun.

 

Karakteristik Bahan Semprot

Faktor-faktor di atas bisa menjadi penghambat efektivitas pestisida terhadap sasaran. Untuk mengatasi hambatan tersebut daya kerja dan karakteristik bahan semprot harus diperbaiki sehingga tidak banyak pestisida terbuang percuma.

Karakteristik bahan semprot artinya sifat-sifat aktivitas campuran antara pestisida dengan air sejak dicampurkan dalam tangki sprayer hingga sesaat setelah mengenai sasaran semprot. Kinerja semprotan dapat dinilai dari :

  1. Daya Emulsi

Pestisida emulsi (bentuk formulasi EC) bahan aktif asal dan pelarutnya bersifat seperti minyak yang tidak bisa bercampur air. Agar dapat dicampur air harus dibentuk menjadi emulsi, yaitu butiran-butiran berukuran mikron yang tersebar dalam air. Semakin tinggi daya emulsi maka semakin halus butiran-butiran pestisida, sehingga dapat membentuk lapisan merata pada permukaan sasaran semprot. Syarat ini diperlukan bagi pestisida berformulasi EC ( emulsifiable concentrate).

  1. Dispersi (penyebaran)

Di dalam tangki sprayer butiran emulsi, larutan, suspensi tepung pestisida seharusnya tetap menyebar atau terdispersi sehingga tidak cepat mengendap, menggumpal, atau terkonsentrasi. Dengan pengadukan saja tidak menjamin pestisida tetap tersebar merata karena butiran emulsi, molekul maupun partikel tepung pestisida cenderung bergerak, mengumpul, atau mengendap.

  1. Ukuran butiran semprot (droplet size)

Semprotan yang baik adalah yang membentuk kabut dari nozzle yang berarti ukuran butiran semprot sangat halus (dibawah 100 mikron) sehingga bahan aktif dapat membentuk lapisan tipis dan merata pada permukaan sasaran semprot, lebih hemat, dan tidak menimbulkan residu berlebihan pada tanaman. Ukuran butiran semprot yang terlalu besar membuat tanaman terlalu basah sehingga jika air pengencernya menguap konsentrasi pestisida menjadi lebih pekat dan bisa jadi toksik bagi tanaman.

  1. Stabilitas dan daya rekat (stability & deposition)

Berkaitan dengan daya tahan bahan aktif pestisida di permukaan daun tanpa banyak terpengaruh panas matahari maupun hujan. Aplikasi pestisida akan lebih efektif apabila bahan aktifnya bekerja lebih cepat sebelum air pengencer / pelarutnya menguap oleh panas matahari. Selain itu apabila turun hujan beberapa saat setelah aplikasi, bahan aktif pestisida tidak mudah luruh tercuci.

  1. Pembasahan (wetting)

Agar pestisida dapat bekerja dengan baik pada sasaran, maka penyemprotan harus bisa membasahi sasaran tersebut. Jika permukaan daun tanaman mempunyai lapisan lilin atau berbulu maka butiran semprot sulit membasahi sasaran dan lebih banyak yang jatuh ke tanah. Demikian pula yang terjadi apabila hama sasaran mempunyai lapisan chitin sebagai perisai alamiah yang juga tidak mudah basah oleh air (misalnya ulat).

  1. Penembusan (Penetrasi)

Pestisida yang berkerja secara sistemik harus menembus ke dalam jaringan tubuh tanaman, tidak saja melalui stomata tetapi juga melalui pori-pori daun (kutikula). Penetrasi bisa terhambat oleh tingginya konsentrasi anion dalam air, tingginya kadar CO2 di sekitar daun, dan banyaknya hembusan angin sehingga bahan aktif pestisida tidak terserap secara maksimal ke dalam tanaman.  Penetrasi bisa ditingkatkan dengan memecah ikatan antar molekul air sehingga sifat air menjadi lembut dan terserap dengan cepat ke dalam tanaman.

Selain itu faktor penetrasi juga penting menentukan seberapa banyak bahan aktif yang mampu menembus kulit serangga hama juga cangkang telurnya.

Karakteristik bahan semprot dikatakan baik apabila pestisida tersebar lebih merata dalam tangki (dispersible), butiran semprot halus membentuk kabut dari lubang nozel, menyebar ke seluruh permukaan sasaran semprot (daun), tidak banyak terpengaruh cuaca (panas matahari maupun hujan), mampu membasahi sasaran semprot, dan dapat terserap dengan cepat dan maksimal ke dalam jaringan tanaman (bagi pestisida sistemik). Jika semua syarat ini dapat terpenuhi maka efikasi pestisida akan meningkat, efektif, dan hemat biaya maupun tenaga.