Memperpanjang Periode Petik Cabai Gelagah


Widodo Dripp

Rabu,12 Desember 2018

Memperpanjang Periode Petik Cabai Gelagah

Dengan manajemen pemupukan bersiklus menurut fase-fase tanaman, tanaman cabai merah keriting dapat diperpanjang masa petiknya hingga 3 periode. Tanaman cabai merah merupakan jenis tanaman semusim (annual). Namun di daerah beriklim tropis sebenarnya tanaman ini mempunyai potensi hidup dan menyelesaikan daur hidupnya hingga 1 tahun. Ada beberapa varitas cabai merah lokal yang dikenal mampu tumbuh dan berproduksi selama 1 tahun. Namun sejak diperkenalkan varitas-varitas hibrida yang didisain untuk mengoptimalkan produktivitas dalam 1 musim, banyak petani lebih memilih menggejot panen dalam 1 musim dengan masa petik antara 18 hingga 24 kali. Setelah tanaman mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis karena penuaan sel-sel (senescence) maupun oleh tekanan lingkungan, hama dan penyakit hingga akhirnya selesailah masa hidupnya.

Hal tersebut tentunya tidak akan jadi masalah jika harga hasil panen sedang tinggi. Namun bagaimana jika saat itu harga cabai sedang jatuh dan mulai merangkak naik di saat menjelang akhir masa petik? Sebagian petani mungkin akan berpikir untuk memperpanjang masa petik untuk memperoleh kesempatan harga panen yang tinggi.  

Ada beberapa teknik yang pernah digunakan oleh petani untuk memperpanjang masa panen cabai hingga 2 sampai 3 periode. Bukan hal yang mustahil jika tanaman cabai mampu hidup dan berproduksi selama hampir 1 tahun. Setelah periode petik pertama usai, tanaman masih dapat ditumbuhkan tunas-tunasnya, dipelihara hingga berbunga dan berbuah lagi. Periode panen yang kedua ini bisa jadi buahnya lebih lebat dibanding yang pertama. Total panen yang dihasilkan pun meningkat antara 50 % sampai 80 %. Teknik ini pernah dipakai di desa Botoreco kecamatan Kunduran Blora oleh Joko Susilo pada tahun 2000, dimana tanaman cabai merah keriting jenis TM-999 mampu tumbuh selama 11 bulan dengan produktivitas per tanaman 1,47 kg. Pemetikan mencapai 44 kali. Penambahan biaya produksi total berkisar 20 % hingga 25 % dari perlakuan standar.

Di Kecamatan Gantiwarno Klaten, metode perpanjangan periode panen cabai merah ini juga pernah diterapkan oleh Drs. Suratmin, petani yang juga seorang guru dari Desa Kemudo kecamatan  Prambanan. Cabai merah keriting varitas Blora (Surya Mentari) yang ditanam pada bulan Februari 2004 masih sanggup berbuah hingga November 2004 dengan produktivitas rata-rata 1,21 kg per tanaman.

Teknik yang digunakan sebenarnya menitikberatkan pada manajemen fase tanaman dan pemupukan bersiklus. Pada prinsipnya tanaman cabai keriting mempunyai potensi umur hingga 15 bulan jika kebutuhan nutrisinya tepenuhi dengan tepat, kondisi lingkungan mendukung, gangguan hama dan penyakit terkendali. Teknik ini memerlukan persyaratan yang harus benar-benar dipenuhi antara lain tanah diolah dengan baik, menggunakan mulsa, pengairan tercukupi, kecukupan bahan organik bagi tanah dengan pupuk kandang, serangan hama dan penyakit terkendali, kebersihan lahan bersih dari gulma, dan pH tanah mendekati seimbang atau netral, hindari penggunaan hormon / ZPT secara rutin.  Adapun yang perlu dipersiapkan diantaranya :

  1. Memilih varitas benih yang adaptif dengan kondisi cuaca dan topografi setempat. Umumnya benih lokal lebih mampu bertahan dibanding hibrida tetapi kemampuan produksinya kalah dengan hibrida.
  2. Pengelolaan lahan secara tepat dengan memperhatikan musim, tekstur tanah, drainase, kecukupan bahan organik, ketersediaan mineral hara hingga derajat keasaman (pH).
  3. Penggunan plastik mulsa adalah suatu keharusan.
  4. Antisipasi pemenuhan kebutuhan air untuk musim kemarau, karena penanaman ini dalam 2 musim.
  5. Persiapan sarana produksi pertanian berupa pupuk organik, dolomit atau pembenah tanah jenis penukar ion (zeolit / bentonit), pupuk makro slow release dan fast release, pupuk foliar, pestisida yang terdiri dari insektisida spektrum luas dan fungisida multi site. Untuk pestisida spesifik melihat perkembangan hama dan penyakit nantinya.
  6. Pemberian pupuk lewat siraman akar atau kocoran lebih baik karena lebih cepat direspon oleh tanaman.

Memperpanjang Periode Panen

Metode pemupukan bersiklus artinya mengatur pemberian pupuk dengan komposisi yang disesuaikan kebutuhan tiap-tiap fase tumbuh tanaman hingga akhir masa petik, kemudian siklus pemupukan diulang untuk mengembalikan fase tumbuh tanaman seperti awal. Ada 5 fase tumbuh tanaman cabai keriting sejak ditanam di lahan yaitu:

  • Fase adaptasi yaitu saat bibit cabai baru dipindah dari persemaian ke lahan. Pada fase tersebut tanaman mengalami adaptasi di lingkungan yang baru, memantapkan sistem perakaran dan belajar mengeksplorasi media tanamnya yang baru berupa tanah. Fase ini tanaman belum banyak membutuhkan hara dan cukup memanfaatkan unsur-unsur hara yang ada di tanah.
  • fase pertumbuhan awal, dimana titik-titik tumbuh mulai aktif diantaranya tunas terminal / apikal, pembentukan akar primer dan lateral, dan pembentukan lignin (jaringan kayu pada batang).
  • fase vegetatif lanjut, yaitu disaat tanaman mulai tumbuh percabangan, munculnya tunas-tunas lateral atau tunas-tunas samping di batang dan ketiak daun, serta terbentuknya serabut akar.
  • fase blooming / berbunga, saat sebagian besar tanaman sudah berbunga.
  • fase generatif atau berbuah, saat pertumbuhan vertikal dan horisontal mulai menurun, sebagian bunga sudah menjadi calon buah, berlanjut hingga buah bisa dipetik dan bunga masih terus bermunculan.

Pada tiap-tiap fase tersebut komposisi unsur hara yang dibutuhkan tanaman berbeda-beda. Fase pertumbuhan awal banyak membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium yang berimbang, unsur P sedang, dan unsur K rendah. Fase vegetatif lanjut, membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium, P dan K rendah ditambah unsur S. Pada fase primordia bunga membutuhkan unsur P tinggi, N dan K sedang ditambah Mg dan Ca. Sedangkan pada fase generatif banyak membutuhkan unsur K, P sedang, N rendah, B dan Mg. Pemberian unsur mikro tidak boleh diabaikan karena unsur mikro turut berperan dalam metabolisme tanaman,  menjaga kondisi tanaman serta penting bagi regenerasi sel-sel tanaman. Saat tanaman mencapai akhir fase generatif atau saat buah hampir habis tanaman bisa dikembalikan lagi ke fase kedua yakni fase pertumbuhan lanjut untuk menumbuhkan tunas-tunas baru dan selanjutnya hingga berbunga dan berbuah lagi.

Teknik yang digunakan adalah mengatur komposisi pupuk sesuai fase-fase tanaman. Untuk memudahkan pengaturan dan mempercepat penyerapan, pupuk diberikan dengan cara kocoran.

 

Pupuk dan Perlakuan Tiap Fase

Sebelumnya perlu diketahui bahwa perlakuan yang dijelaskan di dini adalah standar perlakuan yang menitikberatkan pada pemberian nutrisi (pupuk / hara). Untuk pengendalian hama dan penyakit bisa dibaca pada artikel di bagian lain.

Fase Adaptasi

Fase ini berlangsung cukup singkat. Antara 5 hari hingga 1 minggu. Pada fase ini belum banyak yang perlu dilakukan dalah hal pemberian pupuk, selain menjaga kondisi tanah tidak kering dan antisipasi hama serangga yang biasanya merusak batang muda. Tanaman saat itu dalam keadaan rentan dan sensitif. Pengamatan perlu dilakukan pada pucuk tanaman dan batang muda. Ketika tunsa sudah mulai tumbuh dan pada batang batang telah terbentuk ligning atau jaringan kayu berwarna cokelat muda maka saat itulah tanaman sudah memasuki fase selanjutnya.

Pada fase pertumbuhan awal (starting)

Fase ini disebut starting grown dimulai sejak tanaman lepas dari masa stagnasi, kurang lebih 5 – 7 hari setelah pindah tanam. Kebutuhan pupuk pada fase ini tidak terlalu mutlak karena ketersediaan hara dari tanah dan pupuk dasar yang diberikan sebelumnya masih mencukupi. Pemupukan susulan pada fase ini dimulai pada umur 15 hari setelah tanam diberikan komposisi pupuk sebagai berikut :

Per 100 liter air :

  • NPK 15-15-15 soluble = 800 gram
  • ZA (amonium sulfat) = 100 gr
  • KNO3 putih (14-0-46) = 100 gr
  • Larutkan ke dalam 100 liter air.
  • Tambahkan HUMALIT / STARKA 100 gram.
  • Kocorkan 200 ml larutan tersebut untuk tiap batang.

 

Perlakuan penting :

  • Aplikasi ORBIOS untuk penyemprotan daun setiap 7 hari sekali.
  • Aplikasi SPIN pada daun 1 kali.

 

Pada fase vegetatif lanjut 

Dimulai 22 hari setelah pindah tanam. Ciri yang terlihat batang tanaman sudah membentuk jaringan kayu (lignin) secara jelas, membentuk cabang-cabang, pertumbuhan tunas-tunas lateral (tunas ketiak), menjelang akhir fase ini ada kalanya sudah terbentuk bunga yang disebut bunga promordial tetapi belum banyak. Komposisi pupuk yang diberikan per 100 liter air :

  • NPK 15-15-15 soluble = 1200 gram
  • ZA (amonium sulfat) = 250 gr
  • MAP (monoammonium phosphate) = 75 gr
  • Larutkan dalam 100 liter air.
  • Tambahkan HUMALIT / STARKA 200 gram.
  • Tiap 1 liter dikocorkan untuk 4 tanaman (250 ml per batang)
  • Ulangi aplikasi tiap 7 – 10 hari hingga tanaman memasuki fase berbunga.

Perlakuan penting :

  • Aplikasi ORBIOS untuk penyemprotan daun setiap 7 hari sekali.
  • Aplikasi penyemprotan BLACK CALCIUM 2 kali di fase ini, dimulai saat awal fase dengan pengulangan 7 hari setelahnya. Tujuannya untuk menunjang pembentukan dinding sel yang lebih kuat.