ARTIKEL

Fungsi dan Aplikasi Adjuvant dalam Pertanian Part.2


Widodo Dripp

Sabtu,14 Juli 2018

Fungsi dan Aplikasi Adjuvant dalam Pertanian Part.2

     

Adjuvant (bahasa Inggris) arti harfiahnya dalam bahasa Indonesia adalah “pembantu / penunjang / penyokong”. Dalam agrochemical biasa dipakai untuk menyebut bahan penunjang yang digunakan sebagai campuran pestisida (selain pelarut / pengencer) yang untuk memodifikasi sifat-sifat bahan aktif dan untuk meningkatkan daya kerja pestisida pada sasaran semprot.

Berdasarkan fungsi dan aplikasinya ada 2 jenis adjuvant :

  1. Utility Modifiers Adjuvant / Spray Modifier

Dalam suatu formula pestisida, selain terkandung bahan aktif juga terkandung bahan non aktif yang disebut bahan inert dan bahan pembawa.  Bahan inert ini harus ada karena bahan aktif dalam bentuk murni sangat beracun dan belum siap pakai. Bahan inert terdiri dari pelarut / solvent dan adjuvant. Adjuvant yang ditambahkan dalam formula pestisida oleh pabrik pembuatnya sehingga menjadi produk siap pakai inilah yang disebut Utility Modifiers Adjuvant, yang terdiri dari :

 

  1. Emulsifier, yaitu bahan pembentuk emulsi (butiran-butiran bahan aktif yang tidak bisa bercampur air) saat pestisida diencerkan air. Digunakan untuk pestisida berformulasi EC (emulsifiable concentrate).
  2. Dispersant (penyebar), yaitu bahan penyebar molekul, suspensi, emulsi, atau tepung pestisida dalam air. Biasanya dipakai pada pestisida berformulasi WP, WSC, WDG.
  3. Compatibility agent, untuk menstabilkan struktur kimia bahan aktif agar tidak berubah atau rusak apabila pestisida tersebut dicampur dengan pestisida berbahan aktif lain atau dengan bahan lain (misalnya pupuk daun atau ZPT). Bahan ini biasanya dipakai dalam formula pestisida yang mengandung lebih dari 1 bahan aktif, agar masing-masing bahan aktif tidak saling menimbulkan reaksi kimia.
  4. Co-solvent, yang berfungsi untuk meningkatkan kelarutan bahan aktif pestisida, atau menunjang fungsi bahan pelarut atau solvent yang digunakan.
  5. Buffer, yaitu bahan penyangga pH dan struktur kimia bahan aktif agar tidak dipengaruhi oleh pH air pengencer nantinya saat diaplikasikan sehingga daya kerjanya tetap terjaga.
  6. Suspension agent, yaitu bahan untuk menjaga bahan aktif tetap tersuspensi dan tidak mengendap, sehingga pengguna nantinya tidak perlu mengocok lagi ketika akan digunakan.
  7. Deposition agent, yaitu bahan untuk membuat pestisida mau melekat pada sasaran semprot. Bisanya disebut juga “sticker”. Lawannya adalah anti-deposition agent, yang mencegah suatu partikel menempel pada permukaan, misalnya pada sabun cuci piring.

          Mengenai jenis adjuvant mana saja yang dipakai dalam formula pestisida tergantung pada bentuk formulasinya, misalnya emulsifier dipakai dalam formula EC, dispersant dipakai untuk formula WP, suspension agent dipakai pada formula WSC.  Adakalanya kualitas suatu produk pestisida tidak hanya ditentukan dari kadar bahan aktifnya semata, melainkan juga kualitas dan komposisi bahan-bahan inert-nya terutama adjuvant yang dipakai. Pestisida dengan kadar bahan aktif lebih tinggi bisa saja kalah efikasi dengan yang bahan aktifnya lebih rendah tetapi mempunyai komposisi bahan-bahan inert yang lebih bagus. Sehingga komposisi bahan inert inilah yang menjadi “resep rahasia” bagi para produsen / formulator pestisida dan banyak pula yang dipatenkan.

 

  1. Tank Mix Adjuvant

Selain adjuvant yang sudah dicampurkan dari pabrik pembuat pestisida sebagai bahan inert, juga terdapat adjuvant yang ditambahkan pada saat pengenceran di tangki sprayer, sesaat ketika pestisida akan diaplikasikan, disebut Tank Mix Adjuvant. Jika Utility Modifier Adjuvant gunanya untuk membuat suatu formula pestisida siap pakai tanpa banyak mempertimbangkan faktor cuaca, iklim, sifat permukaan sasaran yang bervariasi, maka Tank Mix Adjuvant ini digunakan untuk menyesuaikan faktor-faktor eksternal tersebut. Misalnya pada saat musim kemarau dimana cuaca terik mudah menguapkan air semprotan lebih cepat sebelum pestisida bekerja dengan optimal. Atau saat musim hujan tiba-tiba turun hujan tak lama setelah aplikasi. Selain itu adanya sifat fisik permukaan sasaran yang tidak selalu mudah dibasahi oleh air.

Jenis-jenis tank mix adjuvant :

  1. Surfactant

         Surfactant singkatan dari Surface Active Agent yang artinya suatu bahan yang menentukan aktivitas zat di suatu permukaan. Dalam bidang sanitasi surfaktan digunakan dalam produk sabun, gunanya untuk meningkatkan daya cuci dan membantu melepas kotoran dengan mudah. Dalam industri tambang surfaktan digunakan dalam pengeboran tanah. Sedangkan dalam pertanian surfaktan digunakan untuk mengkondisikan memperbaiki performa pestisida pada permukaan sasaran misalnya di permukaan daun. Surfactant terdiri dari :

  1. Spreader, yaitu bahan untuk menurunkan tegangan permukaan bahan semprot / air pada permukaan daun sehingga butiran semprot menyebar merata ke seluruh permukaan daun.
  2. Drift retardant, yaitu bahan pemecah ikatan antar molekul air untuk membuat air yang keluar dari nozel menjadi butiran halus dan membentuk kabut dan ketika jatuh pada permukaan langsung tersebar merata, tidak membentuk blok-blok atau droplet.
  3. Pembasah / wetting agent, yaitu bahan untuk membantu pembasahan pestisida terutama pada daun tanaman yang berlapis lilin dan kulit serangga yang berlapis chitin.
  4. Sticker / perekat, yaitu jenis surfaktan yang kandungannya berupa deposition agent, fungsinya untuk meningkatkan pelekatan pestisida pada permukaan sasaran semprot (daun atau kulit hama), sehingga tidak mudah tercuci oleh hujan.
  5. Penetrant, yaitu bahan yang berfungsi untuk memudahkan penembusan pestisida sistemik melalui stomata dan kutikula daun hingga ditranslokasikan ke seluruh jaringan jaringan tanaman. Juga berfungsi sebagai penembus jaringan khitin pada kulit serangga hama maupun cangkang telurnya.

Ketika formula adjuvant sudah menjadi suatu produk komersil yang siap pakai, maka terdapat pembedaan antara stiker dan penetrant meski keduanya sama-sama dilengkapi dengan bahan-bahan surfaktan. Karena istilah surfaktan mengacu pada bahan-bahan yang hanya aktif di permukaan maka selanjutnya produk sticker / perekat biasa disebut surfaktan. Hal ini karena karena fungsi stiker juga hanya untuk permukaan tanaman. Berbeda dengan penetrant yang memang mempunyai daya guna untuk memasukkan / menembuskan pestisida ke dalam daun, setelah aktif di permukaan sasaran selanjutnya meresap dalam jaringan melalui kutikula. Dengan demikian antara fungsi sticker dengan penetran mempunyai perbedaan.

Produk sticker lebih cenderung digunakan untuk pestisida kontak dimana memerlukan pelekatan yang optimal pada sasaran. Contoh dari produk ini adalah BENAWET, RATAFOL, PLASSMA

Produk penetrant merupakan ajuvan yang digunakan untuk meningkatkan daya tembus / penetrasi pestisida pada sasaran. Contoh dari produk ini adalah GLOSS, PENETRO, PENETRAC dan VISTAR.

 

TIPE-TIPE SURFAKTAN

Dalam memilih produk surfactant juga tidak bisa sembarangan karena tidak semua produk surfactant cocok untuk semua jenis pestisida. Dalam hal ini muatan ion dan pH surfactant bisa mempengaruhi stabilitas pestisida. Berdasarkan muatan ionnya surfactant dibagi menjadi 3 :

  1. Anionik, yaitu surfactant yang mempunyai muatan ion negatif (anion). Surfactant jenis ini kebanyakan golongan alkylbenzene. Karena sifatnya yang asam sehingga banyak dipakai untuk produk-produk pembersih seperti sabun cuci, pencuci piring, deterjen. Keasaman surfaktan anionik cukup baik untuk meluruhkan korotan-kotoran berupa minyak atau lemak. Mempunyai sifat asam sehingga hanya untuk aplikasi pestisida kontak karena tidak mempunyai daya penetrasi ke dalam jaringan tanaman. Kebanyakan bersifat asam sehingga dapat menurunkan pH permukaan daun. Kelemahan lainnya tidak bisa dicampur dengan pestisida alkalis, kalsium, dan pupuk daun.
  2. Kationik, yaitu surfactant yang mempunyai muatan ion positif (kation). Tidak bisa dicampur dengan pestisida atau bahan-bahan lain (misalnya pupuk daun) terutama yang bersifat asam. Selain itu daya pembasahnya rendah. Karena bermuatan kation sehingga cationic surfaktant hanya bisa digunakan sebagai desinfektant untuk sterilisasi alat-alat, permukaan mulsa sebelum ditanami, dan desinfeksi kandang ternak. Meski berspektrum luas untuk beragam mikroorganisme patogen jenis ini tidak bisa digunakan secara langsung pada tanaman karena dapat merusak formula pestisida, merusak permukaan tanaman dan bersifat fitotoksik (meracuni sel).

Non-ionik, yaitu surfactant yang tidak mempunyai muatan ion (netral). Karena tidak bermuatan ion maka jenis ini dapat dipakai untuk semua jenis pestisida baik kontak atau sistemik, baik yang ber-pH asam maupun alkali. Sifat non ionik ini juga dimiliki oleh produk-produk penetrant seperti GLOSS, PENETRO, PENETRAC dan VISTAR.