ARTIKEL

Memperpanjang Periode Petik Cabai Keriting Part.1


Widodo Dripp

Kamis,20 Desember 2018

Memperpanjang Periode Petik Cabai Keriting Part.1

     

Dengan manajemen pemupukan bersiklus menurut fase-fase tanaman, tanaman cabai merah keriting dapat diperpanjang masa petiknya hingga 3 periode. Tanaman cabai merah merupakan jenis tanaman semusim (annual). Namun di daerah beriklim tropis sebenarnya tanaman ini mempunyai potensi hidup dan menyelesaikan daur hidupnya hingga 1 tahun. Ada beberapa varitas cabai merah lokal yang dikenal mampu tumbuh dan berproduksi selama 1 tahun. Namun sejak diperkenalkan varitas-varitas hibrida yang didisain untuk mengoptimalkan produktivitas dalam 1 musim, banyak petani lebih memilih menggejot panen dalam 1 musim dengan masa petik antara 18 hingga 24 kali. Setelah tanaman mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis karena penuaan sel-sel (senescence) maupun oleh tekanan lingkungan, hama dan penyakit hingga akhirnya selesailah masa hidupnya.

Hal tersebut tentunya tidak akan jadi masalah jika harga hasil panen sedang tinggi. Namun bagaimana jika saat itu harga cabai sedang jatuh dan mulai merangkak naik di saat menjelang akhir masa petik? Sebagian petani mungkin akan berpikir untuk memperpanjang masa petik untuk memperoleh kesempatan harga panen yang tinggi.  

Ada beberapa teknik yang pernah digunakan oleh petani untuk memperpanjang masa panen cabai hingga 2 sampai 3 periode. Bukan hal yang mustahil jika tanaman cabai mampu hidup dan berproduksi selama hampir 1 tahun. Setelah periode petik pertama usai, tanaman masih dapat ditumbuhkan tunas-tunasnya, dipelihara hingga berbunga dan berbuah lagi. Periode panen yang kedua ini bisa jadi buahnya lebih lebat dibanding yang pertama. Total panen yang dihasilkan pun meningkat antara 50 % sampai 80 %. Teknik ini pernah dipakai di desa Botoreco kecamatan Kunduran Blora oleh Joko Susilo pada tahun 2000, dimana tanaman cabai merah keriting jenis TM-999 mampu tumbuh selama 11 bulan dengan produktivitas per tanaman 1,47 kg. Pemetikan mencapai 44 kali. Penambahan biaya produksi total berkisar 20 % hingga 25 % dari perlakuan standar.

Di Kecamatan Gantiwarno Klaten, metode perpanjangan periode panen cabai merah ini juga pernah diterapkan oleh Drs. Suratmin, petani yang juga seorang guru dari Desa Kemudo kecamatan  Prambanan. Cabai merah keriting varitas Blora (Surya Mentari) yang ditanam pada bulan Februari 2004 masih sanggup berbuah hingga November 2004 dengan produktivitas rata-rata 1,21 kg per tanaman.

Teknik yang digunakan sebenarnya menitikberatkan pada manajemen fase tanaman dan pemupukan bersiklus. Pada prinsipnya tanaman cabai keriting mempunyai potensi umur hingga 15 bulan jika kebutuhan nutrisinya tepenuhi dengan tepat, kondisi lingkungan mendukung, gangguan hama dan penyakit terkendali. Teknik ini memerlukan persyaratan yang harus benar-benar dipenuhi antara lain tanah diolah dengan baik, menggunakan mulsa, pengairan tercukupi, kecukupan bahan organik bagi tanah dengan pupuk kandang, serangan hama dan penyakit terkendali, kebersihan lahan bersih dari gulma, dan pH tanah mendekati seimbang atau netral, hindari penggunaan hormon / ZPT secara rutin.  Adapun yang perlu dipersiapkan diantaranya :

  1. Memilih varitas benih yang adaptif dengan kondisi cuaca dan topografi setempat. Umumnya benih lokal lebih mampu bertahan dibanding hibrida tetapi kemampuan produksinya kalah dengan hibrida.
  2. Pengelolaan lahan secara tepat dengan memperhatikan musim, tekstur tanah, drainase, kecukupan bahan organik, ketersediaan mineral hara hingga derajat keasaman (pH).
  3. Penggunan plastik mulsa adalah suatu keharusan.
  4. Antisipasi pemenuhan kebutuhan air untuk musim kemarau, karena penanaman ini dalam 2 musim.
  5. Persiapan sarana produksi pertanian berupa pupuk organik, dolomit atau pembenah tanah jenis penukar ion (zeolit / bentonit), pupuk makro slow release dan fast release, pupuk foliar, pestisida yang terdiri dari insektisida spektrum luas dan fungisida multi site. Untuk pestisida spesifik melihat perkembangan hama dan penyakit nantinya.
  6. Pemberian pupuk lewat siraman akar atau kocoran lebih baik karena lebih cepat direspon oleh tanaman.

 

Memperpanjang Periode Panen

Metode pemupukan bersiklus artinya mengatur pemberian pupuk dengan komposisi yang disesuaikan kebutuhan tiap-tiap fase tumbuh tanaman hingga akhir masa petik, kemudian siklus pemupukan diulang untuk mengembalikan fase tumbuh tanaman seperti awal. Ada 5 fase tumbuh tanaman cabai keriting sejak ditanam di lahan yaitu:

  • Fase adaptasi yaitu saat bibit cabai baru dipindah dari persemaian ke lahan. Pada fase tersebut tanaman mengalami adaptasi di lingkungan yang baru, memantapkan sistem perakaran dan belajar mengeksplorasi media tanamnya yang baru berupa tanah. Fase ini tanaman belum banyak membutuhkan hara dan cukup memanfaatkan unsur-unsur hara yang ada di tanah.
  • fase pertumbuhan awal, dimana titik-titik tumbuh mulai aktif diantaranya tunas terminal / apikal, pembentukan akar primer dan lateral, dan pembentukan lignin (jaringan kayu pada batang).
  • fase vegetatif lanjut, yaitu disaat tanaman mulai tumbuh percabangan, munculnya tunas-tunas lateral atau tunas-tunas samping di batang dan ketiak daun, serta terbentuknya serabut akar.
  • fase blooming / berbunga, saat sebagian besar tanaman sudah berbunga.
  • fase generatif atau berbuah, saat pertumbuhan vertikal dan horisontal mulai menurun, sebagian bunga sudah menjadi calon buah, berlanjut hingga buah bisa dipetik dan bunga masih terus bermunculan.

Pada tiap-tiap fase tersebut komposisi unsur hara yang dibutuhkan tanaman berbeda-beda. Fase pertumbuhan awal banyak membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium yang berimbang, unsur P sedang, dan unsur K rendah. Fase vegetatif lanjut, membutuhkan unsur N tinggi dalam bentuk nitrat dan amonium, P dan K rendah ditambah unsur S. Pada fase primordia bunga membutuhkan unsur P tinggi, N dan K sedang ditambah Mg dan Ca. Sedangkan pada fase generatif banyak membutuhkan unsur K, P sedang, N rendah, B dan Mg. Pemberian unsur mikro tidak boleh diabaikan karena unsur mikro turut berperan dalam metabolisme tanaman,  menjaga kondisi tanaman serta penting bagi regenerasi sel-sel tanaman. Saat tanaman mencapai akhir fase generatif atau saat buah hampir habis tanaman bisa dikembalikan lagi ke fase kedua yakni fase pertumbuhan lanjut untuk menumbuhkan tunas-tunas baru dan selanjutnya hingga berbunga dan berbuah lagi.

Teknik yang digunakan adalah mengatur komposisi pupuk sesuai fase-fase tanaman. Untuk memudahkan pengaturan dan mempercepat penyerapan, pupuk diberikan dengan cara kocoran.