ARTIKEL

Mengenal Bentuk-Bentuk Formulasi Pestisida


Widodo Dripp

Sabtu,15 Desember 2018

Mengenal Bentuk-Bentuk Formulasi Pestisida

     

Mengenali jenis-jenis pestisida berdasarkan bentuk formulasi merupakan hal yang penting bagi pengguna. Ini berkaitan dengan kompatibilitas atau kesesuaian antara formulasi yang satu dengan lainnya apabila dicampurkan dalam satu kali aplikasi.

 

Disamping itu ibarat senjata dalam peperangan, mengenali bentuk formula ini dapat dipakai sebagai acuan dalam menentukan senjata mana yang terbaik untuk digunakan pada kondisi medan perang tertentu. Semisal, penggunaan pestisida berbentuk SP yang bisa larut dalam air akan menemui hambatan pada cuaca kering atau musim kemarau karena air lebih cepat mengering sebelum pestisida bekerja dan terabsorbsi pada target. Demikian pula formula EC yang merupakan emulsi cairan bahan aktif hidropobik yang terdispersi oleh partikel air, akan bekerja setelah air pendispersinya menguap, sedangkan pada cuaca dingin penguapan air ini lebih lambat.

 

  1. EMULSIFIABLE CONCENTRATE (EC / E)

Emulsi merupakan campuran dua zat cair yang berbeda sifat. Misalnya minyak dengan air disatukan dengan bahan yang bernama emulsifier. Bahan aktif pestisida EC teknis murni tidak bisa bercampur air karena memiliki sifat hidrofobik (takut air) seperti minyak. Agar dapat dicampur / didispersi ke dalam air saat diaplikasikan maka dalam formulasinya ditambahkan emulsifier sehingga hasil campuran tersebut dinamakan emulsi. Emulsi merupakan butir-butir cairan bahan aktif berukuran mikro yang tersebar dalam air. Saat mengenai sasaran, air yang mendispersi bahan aktif akan menguap, bahan aktif menyebar dan mengenai OPT target. Pestisida EC mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menembus jaringan kulit hama sasaran yang berlapis khitin, dimana khitin ini memang sulit basah oleh air biasa. Kandungan bahan pembawanya berbahaya jika terkena mata.  Formulasi EC ini mudah rusak oleh suhu yang terlalu tinggi dan inaktif pada suhu yang terlalu rendah (dingin). 

                                                                                                        

  1. WETTABLE POWDER (WP)

Beberapa bahan aktif pestisida mempunyai efek fitotoksik (beracun bagi tanaman) terserap ke dalam jaringan tanaman. Agar dapat meracuni patogen tanpa meracuni tanaman dibuatlah suatu bentuk formula yang tidak terserap tanaman (atau terserap tetapi dengan perlahan) yaitu yang tidak dapat larut dalam air. Formula ini disebut wettable powder, artinya tepung yang dapat dibasahi. Karena berbahan tepung tidak larut, maka pestisida ini tidak boleh mengendap dengan cepat sehingga ditambahkan dispersant dan agen suspensi dalam formulasinya. Di dalam air partikel-partikel tepung halus tersebut menyebar rata dan selalu bergerak melayang, tidak mudah mengendap atau istilahnya tersuspensi. Semakin halus dan ringan partikel tepungnya maka performanya semakin baik karena tidak cepat mengendap dalam tangki selama diaplikasikan. Saat membuka kemasan pestisida ini harus hati-hati karena debunya mudah menyebar di udara dan terhirup lewat pernafasan.

 

  1. FLOWABLE CONCENTRATE (F)

Bentuk WP menimbulkan resiko terhisap melalui pernafasan karena bentuknya yang sangat halus dan mudah bertebaran di udara. Karena itu bentuk WP diperbaiki dengan formula F yang  bentuknya pekat dan kental. Sifat dan efikasinya sama seperti WP tetapi lebih mudah meyebar dalam air. Selain itu lebih aman bagi pengguna karena saat kemasan dibuka tidak menimbulkan debu. Konsentrasi bahan aktif lebih rendah dari WP. Penggunaannya dengan cara disemprotkan. Sayangnya formula ini belum banyak dikenal petani.

 

  1. SOLUBLE POWDER (SP)

Berbentuk tepung kristal yang bisa larut dalam air.  Aplikasinya juga lebih mudah karena hanya diperlukan pengadukan pada saat pencampuran pestisida dengan air. Konsentrasi bahan aktifnya biasanya tinggi . Ada yang bersifat sistemik, dan sebagian bersifat kontak serta racun lambung.

 

  1. SOLUBLE GRANULE (SG)

Berupa granul yang larut air. Bentuk ini sebagai perbaikan dari formula SP, dimana bentuk partikel halus SP dikhawatirkan beresiko terhisap melalui hidung.

 

  1. DUST (D) / TEPUNG HEMBUS

Berbentuk tepung halus menyerupai bedak talk yang terdiri dari bahan aktif dan bahan pembawa (carrier) yang biasanya berupa talk, mineral profit dan bentoit. Kandungan aktifnya biasanya rendah antara 2 – 10 %. Cara aplikasinya dengan ditaburkan atau dihembuskan dengan alat penghembus tanpa dicampur air.  Pestisida ini digunakan untuk hama gudang, rodentisida, atau membunuh semut. Contohnya Sevin 5 D dan Manzate D.

 

  1. GRANULAR (G)

Bentuknya butiran padat dengan ukuran bervariasi. Ada yang berbentuk coated yaitu pasir kuarsa yang dilapisi bahan aktif dan pembawa. Aplikasinya dengan cara ditaburkan di tanah. Bahan aktif pestisida ini akan larut sedikit demi sedikit (slow release) di tanah sehingga efeknya dapat bertahan lama. Kandungan aktifnya rendah tidak sampai 10 %. Pestisida jenis ini umumnya bersifat sistemik untuk membunuh ulat penggerek batang dan pengisap daun, atau untuk membunuh gulma. Contohnya  insektisida Furadan 3 G, Regent 0.3 G, dan herbisida kontak pratumbuh Goal 2 G.

 

  1. WATER DISPERSIBLE GRANULARS (WDG)

Berbentuk butiran yang jika dicampur air akan pecah, menyebar dan membentuk suspensi ataupun larutan sejati. Aplikasinya dapat dicampur dengan air dengan cara penyemprotan atau dicampurkan dengan pupuk. Bentuk WDG ini dibuat dengan tujuan agar aman bagi pengguna saat membuka kemasan dan mencampur pestisida karena tidak menimbulkan debu-debu yang berterbangan.. Contohnya fungisida KOCIDE 54 WDG, herbisida ALLY 20 WDG.

 

  1. WATER SOLUBLE CONCENTRATE (WSC)

Berbentuk cairan yang pekat. Jika diencerkan dengan air akan membentuk larutan sejati.

 

  1. AQUAEOUS SOLUTION (AS)

Berbentuk cairan pekat yang dapat larut dalam air. Pelarut yang digunakan dalam formulanya adalah air murni. Formula AS ini biasanya digunakan dalam pestisida sistemik yang berbentuk cair, terutama pada herbisida yang mensyaratkan penetrasi ke dalam jaringan. Untuk meningkatkan daya penetrasi bentuk AS dilengkapi dengan bahan penetrant atau surfactant yang berfungsi sebagai biological activator. Contohnya herbisida Roundup. 

 

  1. SOLUBLE CONCENTRATE (SC)

Berbentuk cairan yang sangat pekat seperti susu atau cat tembok, tetapi akan larut saat dicampur dengan air. Kebanyakan bersifat sistemik.   

 

  1. POWDER CONCENTRATE (PC / P) / KONSENTRAT TEPUNG

Berbentuk tepung yang cara aplikasinya dengan dicampur umpan. Contohnya racun untuk babi hutan.

 

  1. ULTRA LOW VOLUME (ULV)

Merupakan jenis pestisida berbasis minyak yang hanya memerlukan volume kecil dalam skala luasan tertentu, antara 1 – 5 liter per hektar. Biasanya dipakai untuk pengendalian OPT pada lahan yang sangat luas misalnya pada lahan tanaman kapas, atau sulit dijangkau dengan penyemprotan biasa, contohnya tanaman perdu yang tinggi atau rapat. Jarang digunakan di Indonesia untuk pertanian. Karena kecepatan penyebaran dan respon efikasinya formulasi ini juga cocok dipakai untuk pengendalian serangga yang bergerak cepat. Aplikasinya memerlukan alat seperti mist blower (jika diemulsikan dalam air), alat fogger (jika dicampur dengan minyak), exhaust sprayer. 

 

  1. READY MIX BAIT (RMB)

Artinya umpan siap pakai. Berbentuk blok atau pellet dengan kandungan bahan aktif rendah (0.003 – 0.005 %) dan bahan makanan yang disukai hewan sasaran. Jenis ini digunakan khusus untuk umpan racun tikus (rhodentisida) siap pakai yang bersifat antikoagulan.

 

  1. SEED TREATMENT (ST) atau SEED DRESSING (SD)

Berbentuk tepung, diaplikasikan pada benih untuk mencegah hama dan jamur parasit. Benih yang akan ditreatment dibasahi dengan sedikit air terlebih dulu kemudian ditaburi pestisida ini dan diaduk sampai semua benih terlapisi oleh pestisida. Contohnya insektisida Marshal 25 ST, fungisida Saromyl.

 

  1. EMULSION IN WATER (EW) / PEKATAN YANG DAPAT DIEMULSIKAN DALAM AIR

Berupa emulsi hidrofobik. Seperti EC tetapi sudah dicampur dengan air di dalam kemasannya sehingga berbentuk cairan putih pekat seperti susu. Formula ini lebih stabil apabila disimpan pada suhu rendah. Apabila hendak diaplikasikan harus dikocok dahulu.

 

Belakangan ini terdapat beberapa bentuk formulasi baru yang dkembangkan oleh industri-industri agrochemical. Tujuannya adalah meningkatkan performa, efikasi dan aspek keamanan bagi para penggunanya. Selain itu juga memperbaiki kompatibilitas antar satu formula dengan formula yang lain, dimana hal ini menjadi kendala dalam aplikasi di lapangan selama ini.